Dulu aku adalah siswa yang
biasa-biasa saja. Bagiku sekolah hanya formalitas karena aku hanya ingin
mendapat ijazah, Cuma ingin cepet-cepet kuliah bisa gaya-gayaan dan cepet-cepet
kerja. Ga ada suatu tujuan atau ambisi yang ingin dicapai. Semua berjalan
normal tapi lebih banyak menghabiskan waktu dengan bersenang-senang ketawa
bareng temen-temen, jalan-jalan, beli baju ya seperti itulah. Ga pernah saya
berfikir bahwa orangtua saya yang membiayai saya. Apakah mereka sanggup? Bagaimana
kerja kerasnya mereka bekerja untuk mencari nafkah soalnya sekarang baru sadar
nyari duit itu susah. Toh dulu mereka ga pernah ngeluh dan merasa sanggup ya
alhamdulilah semua tercukupi tapi saya hanya dari keluarga sederhana.
Normal kan kalau melihat temen-temen
lain yang diatas. Ya mereka yang punya hape keluaran terbaru gonta-ganti sepatu
tas atau jam tangan. Bahkan semua pun tertipu dengan gadget yang mereka bawa
bukan pada kemampuan mereka. Pada saat SD dan SMP semua berjalan indah saya
mempunyai banyak teman dan walaupun tidak pernah dapat ranking teratas ya
setidaknya saya masih rata-rata bukan terbawah. Baru memasuki SMA saya bertemu
orang-orang yang mempunyai ambisi dan berbagai pemikiran lain. Jauh dari saya
yang masih polos yang hanya menjalani apa adanya. Saya dulu pernah mengalami
penolakan dalam bersosialisasi maka tingkat percaya diri saya pada saat SMA
sangat rendah. Saya tipe yang malu-malu kalo bertemu orang baru.
Saya juga mulai mengenal tipe orang.
Mereka yang punya ambisi dan menghalalkan bentuk pencontekan, mereka yang
seperti model berjalan, mereka yang pacar adalah segalanya, atau bahkan yang
pendiam dan alim sekalipun. Disana saya mengenal perbedaan dan saling
menghargai. Seperti biasa saya adalah kalangan tengah saya bisa bergaul dengan
mereka yang diatas atau bawah. Tapi karena gengsi saya, saya lebih codong yang
ke atas sehingga saya harus berpura-pura agar sejajar dengan mereka. Saya harus
berpura-pura bisa, berpura-pura mampu walaupun bukan menjadi diri saya.itu
sangat melelahkan. Tapi saya tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang dan
mudah-mudahan tak akan pernah berubah. Saya akan menjadi santi yang polos. Saya
tak akan berambisi kuat, saya tak akan menjatuhkan atau menyakiti orang, dengan
kemampuan ini saya akan berusaha membantu orang. Dulu teman-teman saya
membohongi orang tua dengan meninggikan harga buku demi mendapatkan uang jajan
lebih. Tapi saya tidak. jujur saya tak pernah membohongi orang tua dan tak
pernah bisa.
CINTA. Entah tapi saya tak pernah
memusingkan akan cinta. Taulah jaman SMA banyak pada saat itu yang cinta
monyet. Pacaran sana-sini, gandengan tangan atau nangis karena putus HhhHhHHh
cerita lama. Tapi saya santai-santai saja tidak punya pacar. Tolong di
garisbawahi BUKAN SAYA TIDAK LAKU tapi hanya karena perinsip saya. Toh dulu ada
beberapa yang deketin saya tapi saya menolak dengan bilang “maaf ya aku udah
punya pacar” ya padahal tidak. Saya Cuma menganggap pacaran saat SMA Cuma main-main
ga ada yang diuntungkan kalo kita kebablasan malah jadinya MODAR. Bagi saya
pacaran cinta monyet itu ribet toh ga banyak yang bertahan lama sampai nikah
kan. Saya pernah pacaran itupun karena saya kena mode ikut-ikutan dan penasaran
aja. Nyatanya ga merubah mindset saya pacaran itu ribet.
Saat mau memasuki perguruan
tinggi. Saya benar-benar tak punya tujuan mau masuk universitas mana. Saya hanya
berperinsip yang penting bisa kuliah di universitas negeri. Saya melibatkan
orangtua saya dalam mencari tempat kuliah. Mereka yang mencari, mereka yang
memilih, mereka mensuport, mereka mendoakan, dan yang pasti mereka yang
membiayai. Mereka yang menjalani oh tidak tidak kalo yang ini saya yang menjalani.
Jadilah saya mendapatkan universitas negeri tepatnya sekolah tinggi negeri. Tau
lah gimana kuliah di sekolah tinggi. Yap hidup asrama, hidup mandiri hanya ada
aku dan senior hahahha.lebay...ga gitu-gitu jg sih tapi ya emang gitu (duh
gimana sih san). Kan ada hukum tertulis, pasal 1 senior selalu benar, pasal 2
kalo senior salah balik lagi ke pasal satu (hadeeeuuuh sama aja keleus). Memang
saya masuk tempat kuliah itu bukan atas kemauan saya tapi setidaknya saya talah
mewujudkan cita-cita kedua orangtua saya.
Pada saat kuliah sama saja. Saya tak
punya ambisi lebih baik dari orang lain. Saya hanya ingin menjadi biasa saja
mengikuti arus yang penting saya bisa menjalani dan bersenang-senang. Tapi disana
saya bertemu orang-orang terbaik. karena disana saya benar-benar sayang pada
sahabat-sahabat saya. Saya benar-benar mengenal mereka seperti mengenal diri
saya sendiri. Saya tertawa dan menangis bersama mereka. Miss you all <3. Disamping
sifat saya yang tidak berubah sama-sama cuek dari dulu sampe sekarang tapi kata
ibu saya sedikit jadi dewasa dan mandiri (asik...asik). semenjak saya di asrama
saya semakin bersyukur punya keluarga, semakin sayang kedua orangtua saya. Dari
mengenal satu sama lain semakin sedikitnya saya punya angan-angan. Mulai membayangkan
ke depannya saya jadi apa. Saat itu yang saya pikirkan:
1. Saya
tidak mau bekerja di tempat yang banyak seniornya
2. Saya
mau berwirausaha
3. Saya
mau keliling indonesia
4. Saya
mau sekolah ke luar negeri
5. Saya
mau membahagiakan orang tua saya
6. Saya
mau tinggal dan kerja di kota kecil
Yap sekiranya itu yang saya pikirkan waktu itu.DAN memang
Allah tidak akan membiarkan hambanya membenci suatu hal nyatanya sekarang saya
bekerja di PUSAT otomatis saya bekerja yang seniornya paling banyak, yang kedua
saya bekerja dan tinggal di kota besar JAKARTA. Keliling indonesia hmmm....kalo
sekarang mana bisa saya kerja 5 hari seminggu. Sabtu-minggu bagi saya buat
istirahat dan ngumpul bareng keluarga. Tapi semakin kesini tekad saya malah
semakin kuat. Saya mau berhasil, saya mau hidup layak dimana saya punya waktu
untuk beribadah kepada Allah, saya bisa membahagiakan orang-orang di sekitar
saya, saya bisa berguna bagi orang lain.
Saya sadar saat ini saya masih belum mampu. Cita-cita saya
masih saya sembunyikan dalam angan-angan. Orang tua saya masih mengharapkan
saya kerja di kantoran padahal tak pernah saya berpikiran akan itu tapi saya
sangat bersyukur atas apa yang telah saya dapat. Kelak nanti saya akan
memperkejakan orang bukan diperkejakan orang. Karena saya suka bekerja dengan
bebas tidak ada jam kantor, tidak ada ruangan yang itu-itu aja, saya bisa jalan-jalan
sambil bekerja. Ya.. satu-satunya pekerjaan yang pantas adalah saya menciptakan
perusahaan sendiri. Tapi belakangan ini setiap saya mengutarakan cita-cita saya
selalu ada perdebatan. Mereka bilang saya ini macam-macam sudah dikasih enak
kerja di kantoran malah mau berhenti. Praktis saya hanya bisa sabar hingga
waktunya tepat nanti saya akan buktikan saya bisa sukses dengan berwirausaha. Dan
saya harus sukses...harus bisa.