aku punya cerita

Minggu, 14 September 2014

KISAHKU

Dulu aku adalah siswa yang biasa-biasa saja. Bagiku sekolah hanya formalitas karena aku hanya ingin mendapat ijazah, Cuma ingin cepet-cepet kuliah bisa gaya-gayaan dan cepet-cepet kerja. Ga ada suatu tujuan atau ambisi yang ingin dicapai. Semua berjalan normal tapi lebih banyak menghabiskan waktu dengan bersenang-senang ketawa bareng temen-temen, jalan-jalan, beli baju ya seperti itulah. Ga pernah saya berfikir bahwa orangtua saya yang membiayai saya. Apakah mereka sanggup? Bagaimana kerja kerasnya mereka bekerja untuk mencari nafkah soalnya sekarang baru sadar nyari duit itu susah. Toh dulu mereka ga pernah ngeluh dan merasa sanggup ya alhamdulilah semua tercukupi tapi saya hanya dari keluarga sederhana.


Normal kan kalau melihat temen-temen lain yang diatas. Ya mereka yang punya hape keluaran terbaru gonta-ganti sepatu tas atau jam tangan. Bahkan semua pun tertipu dengan gadget yang mereka bawa bukan pada kemampuan mereka. Pada saat SD dan SMP semua berjalan indah saya mempunyai banyak teman dan walaupun tidak pernah dapat ranking teratas ya setidaknya saya masih rata-rata bukan terbawah. Baru memasuki SMA saya bertemu orang-orang yang mempunyai ambisi dan berbagai pemikiran lain. Jauh dari saya yang masih polos yang hanya menjalani apa adanya. Saya dulu pernah mengalami penolakan dalam bersosialisasi maka tingkat percaya diri saya pada saat SMA sangat rendah. Saya tipe yang malu-malu kalo bertemu orang baru.


Saya juga mulai mengenal tipe orang. Mereka yang punya ambisi dan menghalalkan bentuk pencontekan, mereka yang seperti model berjalan, mereka yang pacar adalah segalanya, atau bahkan yang pendiam dan alim sekalipun. Disana saya mengenal perbedaan dan saling menghargai. Seperti biasa saya adalah kalangan tengah saya bisa bergaul dengan mereka yang diatas atau bawah. Tapi karena gengsi saya, saya lebih codong yang ke atas sehingga saya harus berpura-pura agar sejajar dengan mereka. Saya harus berpura-pura bisa, berpura-pura mampu walaupun bukan menjadi diri saya.itu sangat melelahkan. Tapi saya tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang dan mudah-mudahan tak akan pernah berubah. Saya akan menjadi santi yang polos. Saya tak akan berambisi kuat, saya tak akan menjatuhkan atau menyakiti orang, dengan kemampuan ini saya akan berusaha membantu orang. Dulu teman-teman saya membohongi orang tua dengan meninggikan harga buku demi mendapatkan uang jajan lebih. Tapi saya tidak. jujur saya tak pernah membohongi orang tua dan tak pernah bisa.


CINTA. Entah tapi saya tak pernah memusingkan akan cinta. Taulah jaman SMA banyak pada saat itu yang cinta monyet. Pacaran sana-sini, gandengan tangan atau nangis karena putus HhhHhHHh cerita lama. Tapi saya santai-santai saja tidak punya pacar. Tolong di garisbawahi BUKAN SAYA TIDAK LAKU tapi hanya karena perinsip saya. Toh dulu ada beberapa yang deketin saya tapi saya menolak dengan bilang “maaf ya aku udah punya pacar” ya padahal tidak. Saya Cuma menganggap pacaran saat SMA Cuma main-main ga ada yang diuntungkan kalo kita kebablasan malah jadinya MODAR. Bagi saya pacaran cinta monyet itu ribet toh ga banyak yang bertahan lama sampai nikah kan. Saya pernah pacaran itupun karena saya kena mode ikut-ikutan dan penasaran aja. Nyatanya ga merubah mindset saya pacaran itu ribet.


Saat mau memasuki perguruan tinggi. Saya benar-benar tak punya tujuan mau masuk universitas mana. Saya hanya berperinsip yang penting bisa kuliah di universitas negeri. Saya melibatkan orangtua saya dalam mencari tempat kuliah. Mereka yang mencari, mereka yang memilih, mereka mensuport, mereka mendoakan, dan yang pasti mereka yang membiayai. Mereka yang menjalani oh tidak tidak kalo yang ini saya yang menjalani. Jadilah saya mendapatkan universitas negeri tepatnya sekolah tinggi negeri. Tau lah gimana kuliah di sekolah tinggi. Yap hidup asrama, hidup mandiri hanya ada aku dan senior hahahha.lebay...ga gitu-gitu jg sih tapi ya emang gitu (duh gimana sih san). Kan ada hukum tertulis, pasal 1 senior selalu benar, pasal 2 kalo senior salah balik lagi ke pasal satu (hadeeeuuuh sama aja keleus). Memang saya masuk tempat kuliah itu bukan atas kemauan saya tapi setidaknya saya talah mewujudkan cita-cita kedua orangtua saya.


Pada saat kuliah sama saja. Saya tak punya ambisi lebih baik dari orang lain. Saya hanya ingin menjadi biasa saja mengikuti arus yang penting saya bisa menjalani dan bersenang-senang. Tapi disana saya bertemu orang-orang terbaik. karena disana saya benar-benar sayang pada sahabat-sahabat saya. Saya benar-benar mengenal mereka seperti mengenal diri saya sendiri. Saya tertawa dan menangis bersama mereka. Miss you all <3. Disamping sifat saya yang tidak berubah sama-sama cuek dari dulu sampe sekarang tapi kata ibu saya sedikit jadi dewasa dan mandiri (asik...asik). semenjak saya di asrama saya semakin bersyukur punya keluarga, semakin sayang kedua orangtua saya. Dari mengenal satu sama lain semakin sedikitnya saya punya angan-angan. Mulai membayangkan ke depannya saya jadi apa. Saat itu yang saya pikirkan:

1.       Saya tidak mau bekerja di tempat yang banyak seniornya
2.       Saya mau berwirausaha
3.       Saya mau keliling indonesia
4.       Saya mau sekolah ke luar negeri
5.       Saya mau membahagiakan orang tua saya
6.       Saya mau tinggal dan kerja di kota kecil

Yap sekiranya itu yang saya pikirkan waktu itu.DAN memang Allah tidak akan membiarkan hambanya membenci suatu hal nyatanya sekarang saya bekerja di PUSAT otomatis saya bekerja yang seniornya paling banyak, yang kedua saya bekerja dan tinggal di kota besar JAKARTA. Keliling indonesia hmmm....kalo sekarang mana bisa saya kerja 5 hari seminggu. Sabtu-minggu bagi saya buat istirahat dan ngumpul bareng keluarga. Tapi semakin kesini tekad saya malah semakin kuat. Saya mau berhasil, saya mau hidup layak dimana saya punya waktu untuk beribadah kepada Allah, saya bisa membahagiakan orang-orang di sekitar saya, saya bisa berguna bagi orang lain.


Saya sadar saat ini saya masih belum mampu. Cita-cita saya masih saya sembunyikan dalam angan-angan. Orang tua saya masih mengharapkan saya kerja di kantoran padahal tak pernah saya berpikiran akan itu tapi saya sangat bersyukur atas apa yang telah saya dapat. Kelak nanti saya akan memperkejakan orang bukan diperkejakan orang. Karena saya suka bekerja dengan bebas tidak ada jam kantor, tidak ada ruangan yang itu-itu aja, saya bisa jalan-jalan sambil bekerja. Ya.. satu-satunya pekerjaan yang pantas adalah saya menciptakan perusahaan sendiri. Tapi belakangan ini setiap saya mengutarakan cita-cita saya selalu ada perdebatan. Mereka bilang saya ini macam-macam sudah dikasih enak kerja di kantoran malah mau berhenti. Praktis saya hanya bisa sabar hingga waktunya tepat nanti saya akan buktikan saya bisa sukses dengan berwirausaha. Dan saya harus sukses...harus bisa.