Bahkan saking mudah dan bebasnya sampai setiap detik hal yang mereka lalui dilaporkan kepada media ini. Misalnya "aduh bete deh angkotnya lama" atau " makan siang dulu" atau " met makan sore" atau "met nonton tivi" atau " met bobo ciang" atau " aku mau bobo nih" atau " aku mau pipis dulu ya".L E B A Y
Itu memang hak asasi orang tapi tolong untuk memilah milih mana hal yang bisa diceritakan mana yang tidak. Ga semua hal tentang kamu orang harus tau. Ga sepatutnya juga amarah-amarah dan keluhan di publikasikan. Mungkin lebih baiknya cerita pada orang terdekat dan meminta nasihat bukannya malah cerita ke sosial media. Saya berusaha menghindari setatus orang-orang yaang isinya hanya keluhan apalagi cemooh. Rugi malah membuat hari saya jadi kebawa negatif.
udah banyak kasus orang yang hanya sekedar curhat di sosial media malah bikin gempar dan mendadak terkenal. Tapi emang mau terkenal dengan embel-embel negatif. Emang sih tiba-tiba folower kita jadi melejit makin banyak orang yang pengen tahu tentang kita tapi heeyy terkenal dengan hal positif itu lebih baik. Berikut ini merupakan beberapa orang yang mempunyai kasus di sosial media.
1. KASUS DINDA VS IBU HAMIL
Dinda yang mempunyai embel-embel 'si perempuan pembenci wanita hamil' disebabkan keluhannya di media sosial path tentang ibu-ibu hamil yang menurutnya memanfaatkan keadaan ketika berada di kereta yaitu dengan seenaknya memintaa duduk kepada penumpang lain tanpa peduli betapa berat perjuangan penumpang lain untuk memperebutkan posisi nyamannya di kereta. Dia bilang gini " benciii banget sama ibu-ibu hamil yang tiba-tiba datang minta duduk".
2. KASUS MARSHA SEKOLAH SWASTA VS SEKOLAH NEGERI
Marsha yang mengaku bersekolah di Bhakti Mulya 400 ini awalnya mengkritik status memakai bahasa inggris di jejaring twitter. Hingga marsha pun diserang sampai terjadilah saling ejek-mengejek. Yang menjadi pembahasannya sekolah negeri dan swasta karena marsha menulis yang mengesankan menjelek-jelekan sekolah negeri.
Yah dari kedua kasus diatas mereka yang awalnya cuma iseng malah ketiban sial dan dicap jelek sama masyarakat. Hingga kebawa-bawa mendapat kecaman dari lingkungannya. Akhirnya mereka meminta maaf lewat sosial media. Bahkan marsha kabarnya hampir di keluarkan dari sekolah tersebut.
Mungkin mereka hanyalah korban dari maraknya sosial media. Yang bisa diambil pelajaran adalah ya kita harusnya bisa menyaring mana kata-kata yang bisa kita ekspresikan dan memang benar mencerminkan diri kita. Jangan malah ada yang cuma ikut-ikutan aja karena bagaimnapun semua yang kita tinggalkan bekas di status-status merupakan penggambaran diri kita.Kecuali orang itu mau buat sensasi itu beda lagi kasusnya. Jadi masih mau nulis status macem-macem ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar