Hari ini sudah menunjukan pukul
00.00 sayang. Detik terakhir sebelum bergantinya hari. Aku melewati malam ini
hanya duduk menatap pintu dan beberapa kali kulirik jam yang tak lelahnya
berdetak. Seperti malam-malam sebelumnya, kamu lupa memberitahukanku kalau kamu
akan pulang malam entah apa yang kamu lakukan disana. Aku tak ingin mau tahu aku
hanya butuh pengakuan dan menganggapku bahwa aku ini adalah istrimu. Tak butuh
kata sayang apalagi hadiah, aku hanya ingin melihat jari manismu melingkarkan
cincin pernikahan kita. Walaupun dulu tak sepenuh hati kamu mengucapkan ijab dimana
kamu akan menjadi pendampingku. Orang tua kita yang menyatukan kita tetapi
tidak hati kita.
Tetapi sayang, tahukah kamu
dibalik rasa bangga menjadi istrimu di depan teman-temanku, ada perasaan iri
saat mereka menceritakan bagaimana romantisnya suami mereka memperlakukan
mereka. Tapi kamu lebih dari sekedar batu bergerak yang telah mengisi
hari-hariku. Yang hanya berbicara sepatah duapatah kata hanya bila kamu meminta
bantuanku. Membetulkan letak kerah kemejamu atau merapikan dasimu. Semua kulakukan
hanya jika kamu memintaku tanpa kata sayang apalagi mesra. Namun walaupun
bermilyar-milyar detik kulalui bersamamu tanpa balas cinta, tetap tak bisa
kusembunyikan raut cemasku saat melihatmu tergolek lemas di tempat tidur.
Kuminumkan kamu dengan segelas
susu hangat. Lalu dengan perlahan kubantu kamu duduk dan kusuapi kamu bubur
yang telah kubuat. “ masih sakit?”kataku lembut melihat kamu yang meringis
kesakitan. kamu hanya menjawab dengan menggelengkan kepalamu tanpa kata. Tanpa kata
aku membantumu meminum obat yang telah kusediakan. Tak bisa kusembunyikan dari
balik mataku yang ingin sekali memelukmu. Sekedar untuk berbagi penderitaan
walaupun tak ada pengaruhnya bagimu. Saat tengah malam demammu tinggi kamu
mengigau dalam tidurmu sayang, kuberanikan diri memelukmu walaupun kamu tak
sadar itu aku.
Semua membuyarkan lamunanku saat kudengar suara mesin mobil hingga
suara pintu terbuka. Aku tahu itu pasti kamu. Seperti biasa aku akan memainkan
drama berpura-pura tidur dan tak sadar kamu datang. Lalu aku akan terbangun
bila kamu masuk ke kamar.
“ kamu dari mana “ selalu dengan pertanyaan yang
sama. Walaupun aku tahu kamu pasti dari tampat itu.
“lembur” hanya itu jawabmu.
Kamu terlihat berantakan sayang. Ditambah
bau alkohol dari balik kemejamu. Dan aku hanya bisa diam sambil menatapmu dan
kembali memerankan drama itu, berpura-pura aku percaya.
Kamu harus akui bahwa aku pandai
sekali memerankan sandiwara.walaupun aku bukan pemain teater sekalipun. Entah sandiwara
apa yang kita permainkan tapi toh mereka percaya bahwa aku adalah istri yang
paling bahagia karena bisa memilikimu dan
kamu adalah suami yang paling baik dan romantis bagiku. Sering sekali
aku dengar dari mereka “ kamu beruntung sekali bisa memiliki rei“. Tapi ternyata
kamu lebih hebat memainkan sandiwara itu dari padaku. Aku sempat melambung
sampai pada kenyataan senyummu hilang saat kita hanya berdua. Tak ada siapapun.
Sayang, anakmu yang masih ada di
rahimku beberapa kali merajuk ingin adanya belai kasih dari kamu. Lalu apa yang
akan kukatakan bila dia bertanya. Walaupun aku tak bisa melihat tapi aku bisa
merasakan dia menangis disana. Aku sekuat tenaga berusaha untuk tidak ikut
menangis dan menenangkannya dengan mengelus lembut perutku yang membuncit. Aku sadar
disana dia terus berkembang dan semakin hari semakin besar. walaupun dia bukan
harapanmu tapi dia satu-satunya harta yang aku punya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar